Senin, 15 September 2008

Penyelidikan korupsi Pasar Anyer berlanjut

Kabag keuangan pemkab diperiksa Polda


SERANG, TRIBUN Penyelidikan Polda Banten terhadap kasus dugaan korupsi dalam projek relokasi Pasar Anyer senilai Rp 2,3 Miliar masih terus berlanjut. Setelah sebelumnya sejumlah pejabat teras Pemkab Serang diperiksa, kemarin giliran Kepala Bagain Keuangan Setda Pemkab Serang Emi Karmi yang dimintai keterangannya di Polda Banten.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan Emi datang ke Polda Banten pada pukul 10.00. Dia langsung memasuki ruang Unit I Sat III Reskrim Tipikor di lantai dua gedung markas besar polisi di Banten tersebut.

Kasubag Bantuan Hukum pada Bagian Hukum Setda Pemkab Serang Pampang Rara ketika dimintai konfirmasinya membenarkan pemeriksaan Emi tersebut. Menurutnya, pertanyaan yang diajukan kepada Emi masih bersifat umum alias belum mengarah pada pokok permasalahan. “saya sendiri hanya mengatra saja tadi, sebagai staf dari Bagian Hukum Pemkab Serang,” katanya.

Sementara itu Kanit I Sat III Reskrim AKP Jules Abraham Abast ketika hendak dimintai konfirmasinya sedang tidak berada di tempat. Menurut informasi sejumlah stafnya Jules tengah berada di BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) Jakarta untuk menanyakan hasil audit BPKP mengenai seberapa besar kerugian negara akibat dugaan tindak pidana korupsi relokasi Pasar Anyer tersebut.

Untuk diketahui, projek relokasi Pasar Anyer ini terjadi pada tahun 2003. Pemkab Serang mengambil anggaran untuk projek relokasi Pasar Anyer ini dari APBD tahun tersebut, percisnya dari pos dana tak tersangka, yakni sebesar Rp 2,3 milliar.

Sejumlah pejabat teras Pemkab Serang yang pernah diperiksa di Polda Banten terkait ini diantaranya adalah Asda Bidang Tatapraja Memed Muhamad dan Kepala Bapeda Pandji Tirtayasa. Pekan lalu Kepala BPKD Toto Suharto kabarnya juga telah diperiksa Polda Banten.(idm)

Pemotongan BLT diduga libatkan oknum kantor pos



SERANG, TRIBUN - Pemotongan dana BLT atau bantuan langsung tunai tahap ke-2 di sejumlah tempat di Kabupaten Serang diduga melibatkan oknum pegawai kantor pos setempat.

Di Desa Pancanagara, Kecamatan Pabuaran, warga mengaku dana BLT yang mereka terima telah dipotong sebesar Rp 10.000 sejak masih di loket pengambilan di kantor pos Pabuaran. Alhasil uang yang mereka terima hanya Rp 390.000 dari Rp 400.000 yang seharusnya. Sesampainya di rumah, aparat RT setempat tiba-tiba juga meminta Rp 10.000 dari dana BLT yang diterima warga itu dengan alasan untuk uang administrasi. “Katanya memang sudah kesepakatan dengan (aparat) desa nya memang seperti itu,” kata Haidir, tokoh pemuda setempat, Selasa (15/9).

Pemotongan serupa juga terjadi di Desa Pegandikan, Kecamatan Pontang. Bedanya di desa ini warga mengambil dana BLT jatah mereka dengan cara dikoordinir oleh aparat desa. Warga di desa tersebut terpaksa hanya meneriman dana BLT tersebut sebesar Rp 375.000 saja. Pasalnya yang Rp 25.000 sudah dipotong oleh aparat desa yang mengkordinir pengambilan tersebut dengan alasan untuk diberikan kepada pihak kantor pos Pontang dan pihak Desa Pegandikan.

Kepala Kantor Pos Serang Ki Agus Muhamad Amran ketika dimintai klarifikasinya, mengaku pihaknya belum menerima laporan adanya pemotongan dana BLT tahap ke-2 ini yang melibatkan oknum kantor pos kecamatan. Namun demikian, Amran yakin praktek pemotongan oleh kantor pos tersebut tidak pernah terjadi. Pasalnya, menurut dia, pihak kantor pos akan memberikan uang kepada penerima BLT berupa uang kertas pecahan Rp 100.000 sebanyak empat lembar, sesuai dengan pasokan dari kantor pos Serang. “Tapi kalau memang ada, adukan saja ke polisi,” katanya.

Secara terpisah, Asisten Daerah Bidang Pembangunan dan Ekonomi Kabupaten Serang Lalu Attarusalam mengatakan, Pemkab Serang telah dengan sangat tegas memerintahkan kepada aparat desa untuk tidak melakukan pemotongan dana BLT dengan dalih apapun. “Kan Pak bupati (Bupati Serang Taufik Nuriman) sendiri yang bilang begitu. Kalau ada yang melanggar tentu akan diberi tindakan yang sesuai,” katanya. Disinggung mengenai dugaan adanya keterlibatan oknum pegawai kantor pos kecamatan dalam praktek pemotongan dana BLT ini, Lalu mengaku, masih akan mempelajari dulu kebenaran dari dugaan tersebut. “Kalau memang ada tentu kita akan koordinasikan dengan instansi terkait untuk mengambil sikap,” pungkasnya.(idm)

Buruh PPIT demo, kesepakatan tetap buntu

SERANG, TRIBUN - Ratusan buruh PT Panca Plaza Indo Textile (PPIT) menggelar unjuk rasa di halaman pabrik yang terletak di Desa Parigi, Kecamatan Cikande tersebut, Selasa (15/9). mereka menuntut perusahaan agar mau membayar uang pesangon sebesar satu kali PMTK.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 09.00 itu diisi dengan berbagai orasi dari para buruh. Selain membentangkan sejumlah poster berisi tuntutan-tuntutan mereka, juga tampak sejumlah bendera SPN (Serikat Pekerja Nasional). Meski sempat terjadi aksi bakar ban, namun secara keseluruhan aksi tersebut masih bisa dikendalikan oleh puluhan aparat dari Polres Serang dan Polsek Cikande yang memang sejak pagi sudah berjaga-jaga di lokasi tersebut. Sekitar pukul 10.30, akhirnya pihak menejemen perusahaan meminta agar pengunjuk rasa mengirimkan beberapa orang perwakilan untuk melakukan audiensi di dalam kantor PT PPIT.

Namun hingga akhirnya para perwakilan buruh keluar ruangan pertemuan pada pukul 13.00, kesepakatan tidak kunjung di dapat. Perusahaan tetap hanya mau memberi pesangon sebesar yang pernah mereka tawarkan sebelumnya yakni seperempat PMTK.

Paling banter mereka cuma mau sepertiga PMTK. Ya udah kami keluar (ruang pertemuan) aja. Gak ada gunanya diterusin,” kata Ketua SPN Kabupaten Serang Asep Syaefulloh yang bertindak sebagai salah satu perwakilan buruh.

Diterangkan Asep, para buruh akhirnya memutuskan untuk terus menduduki pabrik hingga tuntutan mereka dikabulkan. Sebelumnya para buruh memang sudah menduduki pabrik sejak perusahaan memutuskan untuk menutup pabrik dan merumahkan buruh dengan kesanggupan membayarkan pesangon seperempat PMTK itu. Para buruh melakukan penjagaan di pabrik tersebut untuk memastikan perusahaan tidak membawa keluar aset-aset perusahaan.

Asep juga kembali mengaskan sikap para buruh yang akan melakukan gugatan ke PHI (Pengadilan Hubungan Industrial) Serang jika setelah keluar anjuran dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Serang terkait permasalahan ini, namun perusahaan tetap tidak mau mengindahkan. “Disnaker selaku mediator biasanya akan mengeluarkan anjuran sesuai Undang-undang. Dalam hal ini seharusnnya Disnaker mengeluarkan anjuran agar perusahaan membayarkan pesangon satu kali PMTK,” ujarnya. Lebih jauh Asep mengungkapkan kecurigaan para buruh, bahwa sesungguhnya perusahaan tidak benar-benar bangkrut, melainkan hany berniat memindahkan pabrik ke daerah yang ber-UKM rendah seperti Sukabumi dan Sragen. Tudingan tersebut merujuk kepada penutupan lima pabrik lainnya di Jabotabek yang masih berada dalam satu grup dengan PT PPIT, yang dikemudian hari diketahui bahwa pabrik-pabrik tersebut dipindahkan ke daerah ber-UKM rendah.

Sementara itu pihak menejemen perusahaan yang melakukan audiensi dengan para perwakilan pengunjuk rasa yakni Luciana, Juanda dan Nainggolan tidak berhasil di mintai klarifikasinya.(idm)

Minggu, 14 September 2008

Menjadi bupati dengan niat ibadah

Kebenaran sebuah firasat hanya akan teruji jika sudah terwujud. Firasat yang seperti itu pula lah yang nampaknya menghampiri Kepala Pembinaan Mental Markas Komando Kopasus Cijantung Letnan Kolonel Taufik Nuriman saat dirinya bersama sang istri, Eneng Ratna, menunaikan ibadah haji di tanah suci pada tahun 1999. Betapa tidak, firasat tersebut akhirnya mewujud setahun berikutnya. Taufik terpilih menjadi Wakil Bupati Serang, mendampingi Bunyamin.

"Waktu saya sedang wukuf, saya melihat bayangan saya memakai baju serba putih ada di pendopo Kabupaten Serang. Nah ketika tahun 2000 para sesepuh Banten minta saya maju jadi calon Bupati Serang, saya berfikir mungkin ini arti firasat saya itu," kata Taufik.

Adalah Prof Dr. HMA Tihami MA, MM, dan H. Embay Mulya Syarief, dua sesepuh Banten yang pada tahun 2000 menemui Taufik di rumah dinasnya di Jakarta. "Awalnya saya memang ditawari menjadi Bupati oleh beliau-beliau itu. Tapi proses politik kemudian akhirnya menjadikan saya wakil bupati," ujarnya.

Sebagai seorang tentara dengan karir militer yang tidak bisa dibilang rendah, memutuskan berhenti dari militer untuk maju menjadi calon kepala daerah, tentu bukan perkara mudah. Taufik pun mengkonsultasikan hal ini dengan orang-orang terdekatnya, yakni istri dan orang tua. "Istri dan orang tua ternyata mendukung. Ya akhirnya dengan bismillah saya terima deh tawaran itu. Apa lagi kalau inget punya firasat yang waktu naik haji itu," katanya seraya tertawa.

Hanya berhasil menduduki jabatan wakil bupati, tidak membuat Taufik patah semangat. Kemauan belajar nya yang keras serta kesunguh-sungguhannya dalam menjalankan tugas kemudian menjadi kredit poin dimata warga Kabupaten Serang. Alhasil ketika pada periode berikutnya, dia memutuskan untuk berpisah dengan Bunyamin dan maju menjadi calon bupati, berpasangan dengan Andi Sujadi, dia pun terpilih.

Sebagai daerah yang terkenal dengan nilai-nilai keislamannya, warga Kabupaten Serang saat itu nampaknya menemukan figur pemimpin yang islami pada diri Taufik. Pilihan tersebut nampaknya tidak meleset. Sebagai bupati, Taufik tampak sangat concern terhadap islam dengan selalu mengeluarkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang berwawasan islam.

Sebagai pribadi, Taufik nampak begitu menguasai dan menjalani nilai-nilai islam dalam setiap gerak dan langkahnya. "Sebenarnya semua itu bagaimana niatnya. Saya ini jadi bupati niatnya ibadah. Mewakafkan apa yang saya punya dan miliki, materiil-immateriil untuk masyarakat yang saya pimpin. Soalnya tanggungjawab menjadi pemimpin itu berat. Tapi ini amanah, cara yang diberikan oleh Alloh kepada saya untuk beribadah," katanya.(idm)

Memberi contoh dengan perbuatan...



"Gila ya!! hari minggu gini kegiatan nya padet banget." Kalimat tersebut spontan meluncur dari seorang teman, sesama wartawan, saat sepeda motor yang kami tumpangi pada hari minggu itu disalib mobil dinas Bupati Serang Haji Ahmad Taufik Nuriman di jalan raya Serang-Cilegon. Bupati dan kami baru saja usai menghadiri acara sebuah partai politik. Bedanya, kalau kami berdua memutuskan untuk pulang, Taufik Nuriman justru masih harus menghadiri acara pembukaan pasar rakyat yang diadakan oleh sebuah bank plat merah. Kabarnya, setelah itu, dia masih harus menghadiri sebuah acara silaturahmi yang diadakan oleh sebuah yayasan pondok pesantren.

"Terkadang anak-anak suka protes juga. Tapi akhirnya mereka ngerti sendiri kalau bapaknya ini milik semua warga Kabupaten Serang," ujar Taufik saat membuka perbincangan dengan Tangerang Tribun pada suatu sore di teras rumahnya yang asri di bilangan Ciracas, Kota Serang.

Sebenarnya, menurut Taufik, sejak kecil kedua anaknya yakni Esa Kurniati dan Eki Baihaki sudah terbiasa ditinggal-tinggal. Maklum waktu itu Taufik adalah tentara di kesatuan khusus TNI, Kopasus. Kalau sudah begitu, sang istri, Eneng Ratna, yang akan memberikan pengertian kepada anak-anak, bahwa sang ayah pergi untuk menunaikan tugas dari negara. Mungkin karena terbiasa menjadi anak "kolong" itu pula lah, akhirnya ketika sang ayah menjadi Bupati sekalipun, kedua anak Taufik jauh dari kesan manja. Alih-alih menuntut waktu yang lebih banyak dari ayah mereka, kedua anak Taufik justru lebih sering memberikan dorongan agar ayahnya itu lebih banyak mengisi waktunya dengan menjalankan tugas sebagai kepala daerah. "Alhamdullih mungkin nilai-nilai hidup mandiri dan berdisiplin yanag saya terpakan ketika di rumah sedikit banyak akhirnya mempengaruhi perilaku dan fikiran mereka," katanya.

Dalam menanamkan nilai-nilai disiplin kepada anak-anaknya, Taufik mengaku, lebih banyak dengan cara memberi contoh perbuatan ketimbang dengan perkataan. Taufik menyebut, waktu masih jadi tentara dulu, dia kerap membantu sang istri mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari menyapu hingga menyetrika pakaian. Dengan begitu, dia ingin memberi contoh kepada kedua anaknya bahwa hidup menjadi manusia itu tidak boleh terlalu tergantung kepada orang lain. "Kalau sekarang jujur sih udah gak sempet bantuan istri mengerjakan pekerjaan rumah itu. Tapi sekarang anak-anak saya menmgikutinya. Minimal terhadap perabotan milik mereka sendiri. Nyuci mobil sendiri misalnya," imbuhnya.

Meski lama dinas di militer, yakni hampir selama 20 tahun, tidak sedikitpun tampak gaya-gaya khas militer yang kaku pada diri Taufik. Panggilan penuh nada sayang selalu keluar dari mulutnya setiap kali memanggil istri dan anak-anaknya. Mungkin karena itu juga lah, kedua anaknya, diakui sangat terbuka untuk membicarakan permasalahan mereka, meski yang bersifat pribadi sekalipun. "Anak saya itu kalau ada yang suka aja misalnya, layaknya remaja lainnya, ya dia cerita sama saya," kata pria yang hobi main tenis dan berkebun ini.

Menyadari sempitnya waktu untuk bisa berkumpul bersama keluarga, Taufik akhirnya seperti telah memutuskan untuk membuat sebuah peraturan tidak tertulis didalam keluarga. Setiap malam minggu dia selalu berusaha untuk pergi bersama keluarga, meski hanya untuk sekedar makan malam di tempat-tempat favorit. Kalau sudah begitu, si sulung yang sudah tinggal bersama suaminya, Kapten (inf) Romas Herlandes, di Jakarta pun dengan senang hati akan pulang ke rumah di Serang. Begitu juga dengan si bungsu yang kini terpaksa harus tinggal di sebuah kamar kos di dekat kampusnya di Jakarta. Dan rombongan keluarga kepala daerah ini pun siap untuk menyantap makanan kesukaan mereka di tempat-tempat makan yang terkenal kelezatannya di Kota Serang atau di Cilegon. "Kalau saya sih sebenernya suka sayur asem dan ikan asin. Tapi ibu nya dan anak-anak sekarang lagi seneng karaoke, jadi sekarang lebih sering cari tempat makan yang ada karaokenya," ujarnya.

Kegiatan mengisi waktu luang bersama keluarga di setiap akhir pekan itu, kata Taufik, pada akhirnya mampu menjauhkan kedua anaknya dari gaya hidup anak muda yang cenderung hura-hura di malam minggu. Taufik juga yakin kalau kedua anaknya itu selalu bersikap menjaga kehormatan orang tua dengan tidak pernah berbuat sewenang-wenang dengan mengatasnamakan nama besar bapaknya yang seorang Bupati.

Peraturan tidak tertulis lainnya yang dibuat Taufik untuk menjaga keakraban di rumahnya adalah sholat magrib dan subuh berjamaah, serta pengajian Yasin setiap malam Jum'at. "Kalau yang ini berlaku untuk semua orang di rumah. Supir, ajudan, pembantu dan keponakan-keponakan yang kebetulan tinggal disini," katanya.

Kesan Islami yang lekat pada diri pria kelahiran Ciruas 2 Oktober 1953 dari pasangan KH Nuriman dan Hj Sohrabah ini nampaknya tidak hanya di permukaan alias hanya etalase saja. Betapa tidak, banyak sumber Tangerang Tribun yang menyebutkan kalau Taufik tidak pernah alfa menjalankan puasa sunat Senin-Kamis. "Saya kadang nggak enak kalau terpaksa harus menginap di rumah beliau. Habis setiap habis sholat subuh beliau mesti Yasin-an. Terkadang kita kan pengennya tidur lagi kalau abis subuh ya," kata seorang staf pribadi Taufik suatu ketika setengah berbisik seraya terkekeh.

Pengamatan Tangerang Tribun juga menunjukan hal yang tidak jauh berbeda. Hampir dalam setiap sambutannya dalam berbagai acara, tidak harus acara keagamaan, Taufik tidak pernah ketinggalan untuk menyelipkan petatah-petitihnya dengan mengutip ayat-ayat Qur'an atau hadis Nabi Muhammad SAW. "Ya saya ini kan berasal dari keluarga yang Alhamdullilah Islami. Ayah saya itu alumni Pesantren Al-khairiyah Citangkil. Saya sendiri kan pendidikan formalnya serba Islam, mulai dari PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) sampai IAIN (Institut Agama Islam Negeri)," ujarnya menjelaskan alasan kentalnya nuansa Islami yang melekat pada dirinya.(idm)

Buruh akan gugat Pabrik tekstil ex milik Pan Brother

SERANG, TRIBUN - Buruh PT Panca Plaza Indo Textile (PPIT) berencana akan melakukan gugatan terhadap perusahaan tempat mereka bekerja tersebut, ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Pasalnya kedua belah pihak tidak kunjung mendapat kesepakatan mengenai besaran uang pesangon pasca akhirnya perusahaan menyatakan ketidaksanggupannya dalam mendapatkan investor baru.

"Mungkin minggu-minggu ini kita akan layangkan gugatan itu. Kita tunggu rekomendasi Disnaker (Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Serang) dulu selaku mediator," kata Ketua SPN Banten Yeheskiel DY Parabowo, Minggu (14/9). SPN adalah serikat buruh yang melakukan advokasi terhadap buruh pabrik tekstil di Desa Parigi, Kecamatan Cikande tersebut.

Diterangkan Prabowo, baru-baru ini pertemuan antara buruh dan perusahaan yang dimediatori Disnaker terkait keinginan perusahaan yang akan melakukan penutupan pabriknya, kembali dilakukan. Dalam pertemuan tersebut perusahaan menyatakan tetap akan menutup pabriknya karena tidak berhasil menemukan investor baru. Perusahaan juga tetap dengan tawaran mereka semula untuk hanya memberikan uang pesangon sebesar seperempat PMTK. "Kami sudah berulang kali bilang, mengenai mau tutup, itu hak perusahaan. Tapi tolong hak buruh dipenuhi," katanya.

Menurut Prabowo, jika mengacu kepada UU Nomor 13/2003 tentang ketenagakerjaan seharusnya perusahaan memberikan pesangon sebesar dua kali PMTK. Namun demikian, lanjutnya, buruh mencoba memahami keadaan perusahaan yang mungkin dalam kesulitan keuangan, sehingga buruh mau menurunkan besaran uang pesangon yang harus diterimanya menjadi satu kali PMTK saja.

Secara terpisah Kepala Disnaker Kabupaten Serang Suherman A. membenarkan jika dalam pertemuan terkahir antara PT PPIT dan buruh tidak ditemui kata sepakat. Untuk itu, kata Suherman, pihaknya selaku mediator akan segera memberikan anjuran atau rekomendasi kepada kedua belah pihak dalam mendapatkan jalan keluar dari permasalahan tersebut. "Tapi mengenai anjurannya sendiri sampai sekarang masih kami godok," imbuhnya.

Suherman menambahkan, bagi pihak-pihak yang keberatan dengan anjuran dari pihak mediator, proses gugatan bisa dilakukan.

Awal Agustus lalu PT PPIT menyatakan akan menutup pabriknya dengan alasan investor mereka selama ini yakni pemilik konglomerat Pan Brother, Bambang Sutijo, sudah mencabut investasinya. Kepada buruh, perusahaan menawarkan uang pesangon sebesar seperempat PMTK. Buruh mengadukan hal tersebut ke Disnaker Serang. Buruh mempertanyakan alasan penutupan pabrik tersebut sehingga perusahaan diminta untuk tetap beroperasi. Namun jika akhirnya perusahaan tetap memutuskan untuk menutup pabriknya, maka buruh meminta perusahaan untuk membayarkan pesangon sebesar satu kali PMTK. Pada saat itu perusahaan pun menyanggupi akan berupaya untuk mencari investor baru.(idm)

Pemkab diminta tertibkan penambangan pasir

SERANG, TRIBUN - Pemerintah Kabupaten Serang diminta untuk segera menertibkan aktivitas penambangan pasir darat di Kampung Brambang, Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa. Permintaan dari sejumlah kalangan ini menyusul telah terjadinya pemblokiran jalan di kampung tersebut oleh warga sebagai bentuk protes terhadap aktivitas penambangan pasir darat disana.

Sekertaris Jenderal FKPN Pontirta (Forum Komunikasi Petani dan Nelayan Kecamatan Pontang, Tanara dan Tirtayasa) Iwan Sofwan, Minggu (14/9), mengatakan,pemblokiran yang dilakukan warga tersebut sebagai bukti dari absennya peran Pemerintah Kabupaten Serang dalam menjaga ketertiban di masyarakat. "Kalau masyarakat akhirnya sampai bergerak sendiri, artinya kan pemerintahnya diam saja," ujarnya. Oleh karena itu, kata Iwan, saatnya kini bagi Pemkab Serang untuk bergerak melakukan penertiban terhadap aktivitas penambangan pasir darat tersebut. Lebih lanjut Iwan juga mempertanyakan apakah aktivitas penambangan pasir darat tersebut mengantongi perijinan dari Pemkab Serang atau tidak. "Logikanya kan kalau perijinan ditempuh dengan benar, imbas aktivitas pertambangan itu kan akan minimal. Beda dengan yang tidak ada ijinnya, ya semaunya saja," imbuhnya.

Secara terpisah anggota Komisi D DPRD Kabupaten Serang Najib Hamas juga menyampaikan desakannya. Kata Najib, Bupati Serang Taufik Nuriman harus segera memberikan instruksi kepada dinas terkait untuk melakukan penertiban. "Jangan sampai tindakannya terlambat sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Menurut Najib, Pemkab Serang harus berani melakukan penutupan terhadap aktivitas penambangan yang memang tidak memiliki ijin. Penambangan tanpa ijin tersebut, lanjutnya, telah merugikan pemerintah daerah dan warga sekitar lokasi, serta lingkungan. "PAD (Pendapatan Asli Daerah) tidak masuk, lingkungan rusak, masyarakat marah. Nunggu apa lagi?" katanya.

Sebelumnya warga Kampung Brambang telah melakukan pemblokiran jalan di kampung mereka dengan batu-batu besar yang mereka dapatkan dari kali setempat. Pemblokiran tersebut dimaksudkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap aktivitas penambangan pasir darat di kampung tersebut yang telah mengakibatkan jalan menjadi rusak parah sepanjang tahun. Akibat pemblokiran tersebut, puluhan mobil pengangkut pasir pun sempat tak bisa lewat sampai akhirnya pihak penambang pasir berjanji akan ikut menjaga kondisi jalan.(idm)